reza prayudha aji | january 17th
communication\
Ask me anything
Beberapa minggu terakhir ini, gue dan beberapa teman gue, semacam teman terdekat di kampus, punya hobi baru. Sebenernya bukan hobi sih, lebih tepatnya kita menemukan suatu tempat di Bandung dimana kita bisa ngobrol lepas dan bebas sampai pagi. Berawal ketika gue diajak ke tempat ini oleh teman2 terbaik gue, dan gue menyebarkan virus menariknya tempat ini ke teman-teman gue di kampus. Mungkin untuk beberapa orang, dalam hal ini yang ada di lingkungan gue, tempat ini ga menarik atau bahkan cenderung ke arah negatif, karena ya ini adalah tempat ngebeer. Namun mereka belum tau betapa serunya kita bisa ngobrol banyak hal disini. Entah ada sebuah kekuatan magic, atau gue yang terlalu mendramatisir, cuman atmosphere yang diberikan tempat ini beda banget dari tempat2 yang lain, dan gue ga nemuin tempat ini di Jatinangor.
Awalnya gue kira mungkin hanya ketika pertama kali pergi kesana suasana seru itu kita dapat, namun ternyata ketika kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya suasana menyenangkan itu tetap terasa disana. Disini kita saling bercerita, bercanda, tertawa lepas, membuka rahasia, atau saling beragumen atas suatu konsep pemikiran. Bahkan gue rasa dari tempat ini gue dan teman-teman gue bisa merencanakan trip holiday yang awalnya gue kira akan sulit terealisasi. Semua cuman berawal dari ngobrol. Berawal dari beberapa botol beer yang dingin dan suasana malam Bandung. Berawal dari cara kita memandang sesuatu, dengan sentuhan-sentuhan lelucon yang bisa sama-sama kita terima dan tertawakan. Berawal dari samanya pikiran akan suatu hal, atau bahkan tentang seseorang, ya salah satu tempat yang seru untuk membicarakan orang lain lebih mendalam sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki. Banyak hal yang telah kita bicarakan disini, bahkan tanpa ada rasa malu dan batas. Sama-sama membicarakan tentang lingkungan, pertemanan, cinta, agama, bahkan yang jauh lebih intim.
Kita suka beer. Tapi bukan beer yang kita cari di tempat ini. Kalau cuman pengen beer, ga perlu kita jauh-jauh dari Nangor bela-belain dateng ke tempat ini. Bukan itu. Kita mencari moment dimana kita bisa bareng-bareng ngumpul, ngobrol bersama, dan menjadikan hal ini refreshing disela-sela kesibukan dan kegalauan kita menghadapi skripsi dan tuntutan untuk lulus kuliah. Bagaimana tempat ini bisa membuat kita lupa akan waktu, hingga tiba-tiba adzan Subuh terdengar. Gila emang, tapi ini yang gue namakan seni dalam pertemanan. Gue yakin, moment-moment ini yang bakal kita kangenin kelak, ketika kita satu persatu harus lulus, dan memulai hidup baru. Tempat ini bakal menjadi salah satu saksi sejarah dalam hidup gue, bagaimana tempat ini menjadi salah satu tempat gue untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman terhebat yang kelak suatu saat gue yakin akan menjadi orang yang hebat. Someday mungkin ketika kita udah tua nanti, kita bakal dateng untuk kumpul lagi di tempat ini, dan menceritakan apa yang menjadi sejarah dalam hidup kita.
thanks, beermart.
Apa rasanya ketika lo ketemu sama orang yang ada diantara ingin dan ga ingin lo temui. It was happened to me a few days ago. Pasti, orang yang ada di posisi ini adalah orang yang pernah menjadi bagian kecil dalam cerita hidup lo. I can say, orang yang ga pernah bisa hilang dari pikiran lo sekeras apapun lo mencoba. Ketika gue ngeliat dia, gue panik, totally. Dan satu hal yang gue pikirkan saat itu, jangan sampe dia ngeliat gue, karena gue yakin respon spontan yang bakal ada saat itu kalo dia liat gue pasti bakal akward, banget. There’s a moment di sepersekian detik kita saling tatapan mata. Entahlah banyak kemungkinan disitu, dia ga sadar itu gue, atau dia sadar itu gue dan berpikiran sama kaya gue. Tapi untunglah gue bisa menghadapi kebetulan ini tanpa harus ada interaksi dengan dia. Sebenernya bukan karena gue benci atau ga suka sama dia, bahkan jujur gue seneng bisa ngeliat dia, cuman gue rasa belum saatnya untuk berinteraksi lagi dengan dia.
Bicara tentang kebetulan, gue kemaren denger dari film Rectoverso, di film itu ada Fauzi Badillah yg ngomong “semua yang terjadi di dunia ini tuh ga ada yang kebetulan, semua partikel2 di kehidupan bersinergi menjadi satu dan membentuk kehidupan” ya kira2 kaya gitu kalimatnya. In one way gue ngerasa it’s goddamn true. Which is it means gue bisa ketemu dia disana ya karena itu udah menjadi partikel dalam kehidupan gue. Dan kalau emang dia adalah partikel dalam kehidupan gue, berarti ada peran dia dalam gue menarik suatu pemikiran.
Seorang temen gue ngepath seperti ini, “Everyone deserves a happy ending. But when exactly that ending takes place? Just wondering.” dan gue pun ikut berandai2 akan hal tersebut. Oke, dia adalah orang yg pernah berarti dalam hidup gue, dan dulu gue pernah berpikir kalau orang itu adalah satu2nya orang yang bisa ngasih gue happy ending. Namun semakin gue berusaha untuk meraih itu, semakin gue sadar kalau happy ending itu masih jauh dari yang gue pikir. Terlalu muluk kalau gue ingin maksain dapetin happy ending itu secara cepat. Padahal happy ending itu bakal dateng sendiri ketika pikiran dan hati udah setuju akan hal itu. So, kalau gue mengambil kesimpulan, dari apa yang terjadi kemarin itu gue anggap sebagai partikel kehidupan yang bakal membantu gue untuk mendapatkan apa itu happy ending menurut gue sendiri. Menurut apa yang otak dan hati gue sepakati. Apa pun itu, bagaimana pun itu, siapa pun itu, akan menjadi satu bagian dalam kehidupan gue kelak.
Oiya, apakah gue bakal berinteraksi sama dia lagi one day? Semua tergantung dari partikel kehidupan nanti di masa depan.
Tak terasa gelappun jatuh
di ujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Lalu mataku merasa malu
semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya
di malam hari
menuju pagi
sedikit cemas
banyak rindunya
-Payung Teduh
Im not good on writing. Bahkan gue bisa dibilang ga suka nulis. Namun ketika masalah melanda di pikiran gue, dan ketika ga ada satu manusia pun yang bisa sepaham dengan gue, nulis jadi pilihan gue selain Tuhan.
“Sometimes, you just cant tell anybody how you really feel. Not because you dont know why, not because you dont know your purpose, not because you dont trust them, but because you cant find the right words to make them understand.”
Polemik pemahaman mana yang benar dan salah masih jadi bayang-bayang di kepala gue. Ketika gue berbuat benar, hal tersebut akan salah untuk beberapa orang. Ketika terpaksa harus berbuat salah, kepala gue akan mengtololkan apa yang gue lakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika lingkungan tidak bisa sejalan dengan pikiran. Bagaimana ketika ragu masih ada di antara benar dan salah, baik dan buruk.
Manusia pintar menilai, tanpa berkaca. Itu juga terjadi sama gue. Namun ketika gue berkaca, betapa sampahnya gue berani menilai orang lain. Mungkin, dengan menilai orang lain, merupakan salah satu bentuk care seseorang. Tapi terkadang, itu malah menjadi senjata untuk mempertajam persepsi. Ga ada yang tulus. Semua sampah.
Gimana kalau semuanya salah. Bukan berarti gue bener, tapi setidaknya ada pikiran gue untuk menjadikan itu bener. Gue salut sama seorang teman yang selalu berani untuk bilang ya dan tidak, untuk setuju dan tidak setuju, untuk positif dan tidak negatif. Sedangkan gue masih terlalu payah untuk mengungkapkan apa yang gue pikirkan. Spiral of silence, mungkin.
Ngaco emang apa yang gue tulis. Ini yang gw jalani saat ini. Ketika kejujuran mungkin bukan jalan terbaik. Ketika gue ga berani untuk jujur, dan kepalsuan adalah hal yang gw benci. Seorang teman bilang ke gue, honest always better than any option. Mungkin yang jadi masalah disini bukan gue ga mau jujur, tapi gue yang terlalu takut menerima efek dari kejujuran gue. Capek, sama pengalaman yang ngebuat gue jatuh bangun mendem sendiri. Bukan gue ga suka share, tapi terkadang share malah jadi bumerang buat gue sendiri. Tegas, ya, gue belum bisa jadi orang seperti itu. Terkadang keputusan gue ambil dari apa yang gue pikir saat itu, sampe gue kadang kewalahan ngerapihin semuanya.
Fuckin shit with what people said. Just do what you think its true.
Klise emang, but its goddamn true. Apa yang bener buat gue emang belum tentu bener buat orang lain. Tapi setidaknya gue tetep harus ngelakuin apa yang gue anggap bener, daripada harus berpura-pura ngelakuin apa yang bener di mata orang lain.
I’m learning.
Banyak hal yang saya pelajari beberapa bulan kemarin. Membuat suatu keputusan bukan hal yang mudah buat saya. Pada dasarnya saya berpikir, suatu keputusan diambil karena apa yang kita yakini, diluar dari salah dan benar. Ya, walaupun pada akhirnya salah dan benar akan datang dari orang lain, bukan dari diri sendiri. Saya tidak bisa menyalahkan. Mereka berpikir dari apa yang mereka simpulkan. Pada dasarnya tetap, orang akan berpikir apa yang terbaik. Saya belajar dari apa yang saya sia-sia kan, dan saya belajar dari apa yang saya anggap terbaik. Ketika kita disalahkan mengapa harus memulai bila akhirnya akan berakhir, saya berpikir, kita akan belajar dari segala hal yang berakhir, dan harus ada suatu awal dari segala hal. Memang berat, memang pahit, senyuman tidak bisa menutupi segala yang telah hancur, tapi itulah nilai. Hidup bukanlah hal yang mudah. Kadang orang akan merasa di awan, namun terkadang orang akan merasa terkubur. Memang tidak ada yang sempurna. Kata sempurna memang terlalu klise untuk kehidupan. Saya ingat ketika orang tua saya pernah bilang, kita ga akan pernah bisa dapetin semua yang kita mau, tapi kita bisa bersyukur dari apa yang kita miliki. Saya bersyukur dengan apa yang telah dia dapat. dan mungkin, keputusan ini dapat menjadi rasa syukurnya suatu saat nanti.
Di dalam pikiran gue, there’s always “hai” and also “bye”.
Ya semua ada awal, dan pasti memiliki akhir. Gue telah lahir, dan pasti gue bakal mati. Sama halnya dengan orang-orang yang kita sayang, someday, they will be gone. Nothing last forever in this world, God said that there are something immortal in our second life, but hell yeah, gue masih terlalu “sibuk” untuk mikiran kehidupan gue yang sekarang.
Sometimes, kita ga pernah sadar, apa yang sebenarnya kita cari. Kata orang, manusia ga akan pernah puas dalam hidupnya. Mungkin benar, karena kita selalu mencari hal yang sempurna, walaupun itu ga ada. Yang paling maksimal bisa manusia lakuin cuman cari yang terbaik di antara ketidaksempurnaan. Well, it means talk about something that must be left. Hidup memang harus ke depan. Ga ada waktu untuk ngeliat kebelakang, karena masih ada banyak hal yang belum didapat di depan sebelum gue mati. Mungkin orang lain ga akan pernah ngerti apa yang ada di pikirin gue, bahkan gue sendiri pun belum tentu bisa ngerti perbedaan antara hati dan otak gue. Dua-duanya berpikir untuk mencari yang terbaik untuk diri gue, yang tanpa sadar akhirnya gue cuman bisa ngikut tanpa gue ngerti apa maksud dibaliknya.
For me, the truth is, sometimes we just need to end, because it was already completed.
and we have to find another story, to complete our life.
I just want it, just because i just want it.